Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara, khususnya di lingkungan instansi Mahkamah Agung, pasti sudah familiar dengan hasil rapat TPM atau Tim Promosi dan Mutasi. 

Pola promosi dan mutasi diterbitkan dengan maksud memperbarui pedoman yang sudah ada sebelumnya, agar selaras dengan perubahan keadaan formasi pegawai di lapangan dalam optimalisasi pelayanan publik di Pengadilan, maupun tuntutan adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia. 

Dalam konteks pencapaian visi Mahkamah Agung, kebijakan promosi dan mutasi digunakan sebagai pedoman untuk memperoleh kesamaan pikir, sikap dan tindakan bagi tim promosi dan mutasi dalam mengambil keputusan penempatan hakim pada empat lingkungan badan peradilan. 

Berdasarkan pepatah latin "Fiat justitia ruat caelum", “Biarlah keadilan ditegakkan, meskipun langit runtuh". Semua daerah di bawah langit Indonesia membutuhkan keadilan yang sama, tanpa terkecuali. Itulah yang menjadi dasar pemerataan proses rapat TPM. 

Awal proses rekrutmen, kita juga dengan sadar menandatangani di atas materai sebuah Surat Pernyataan, yang menyatakan bersedia ditempatkan di Mahkamah Agung RI dan 4 (empat) lingkungan Badan Peradilan yang berada di bawahnya. Sehingga takdir penempatan ini merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibendung. 

Terkait dengan hasil rapat TPM, setiap pegawai memiliki pendekatan masing-masing dalam menerima hasil tersebut. Bagi pegawai yang mendapatkan penempatan di homebase atau paling tidak mendekati, pasti beribu-ribu ucap syukur diucapkan terhadap hasil tersebut. 

Namun bagi pegawai yang mendapatkan penempatan promosi maupun mutasi di satuan kerja yang berjarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer dari homebase, tentu saja minimal menghela nafas panjang sambil membayangkan segala kemungkinan konsekuensi yang akan diterima. Fenomena ini, nyaris selalu terlihat pada saat hasil rapat TPM diumumkan. 

Terhadap hal ini, saya jadi teringat sebuah hikayat yang berasal dari cerita rakyat Sufi dan Ibrani dengan tajuk Cincin Solomon yang menceritakan suatu hari Solomon memutuskan untuk mengusili Benaiah Ben Yehoyada, menterinya yang paling terpercaya. .....