Gelombang unjuk rasa yang berujung anarkis beberapa waktu lalu sungguh menyisakan luka. Fasilitas publik hancur, gedung bersejarah musnah, kendaraan aparat hangus, bahkan rumah pejabat dijarah tanpa rasa malu.
Pemandangan orang masuk dan mengambil barang seolah tanpa dosa menunjukkan betapa tipisnya batas antara demonstrasi dengan perampokan terbuka.
Ironisnya, peristiwa serupa juga terjadi di Pacitan, Jawa Timur. Hanya karena seorang bintang voli batal hadir, massa membakar gedung olahraga.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah kita sedang kehilangan akal sehat, sopan santun, bahkan rasa takut kepada Tuhan?
Padahal, bangsa ini kerap berbangga diri disebut sebagai bangsa religius. Agama diajarkan di sekolah, disuarakan di mimbar, dan diagungkan dalam simbol. Namun, realitas di jalan-jalan memperlihatkan wajah lain: amarah yang meledak tanpa kendali.
Negara Hukum yang Dirobek
Indonesia adalah negara hukum. Artinya, setiap persoalan seharusnya diselesaikan melalui jalur hukum, bukan dengan kekerasan massa. Tetapi faktanya, hukum sering kali tidak ditegakkan dengan adil dan konsisten.
Ketika hukum lemah, rakyat frustrasi. Dari situlah emosi massa mudah menyala dan melampaui batas. Mereka menuntut keadilan, tetapi ironisnya merobek hukum dengan tangan mereka sendiri. .....