Get Adobe Flash player

Isi Dokumen yang terdapat pada website ini disalin sesuai dengan Dokumen Aslinya. ======== Dilarang memperjual-belikan seluruh isi konten dari website ini

Google Play Store

google

Pencarian File

Cari Berdasarkan Nama File: 
Cari Berdasarkan Deskripsi File: 

Jumlah Pengunjung

Alamat Redaksi

JL. Medan Merdeka Utara No.9–13
Tromol Pos No. 1020 – Jakarta 10010

Ikuti Info Kami di:

   RSS FEED

Kami akan mengirim update informasi hukum dan peraturan perundang-undangan terbaru ke Facebook anda

7 KEPRIBADIAN YANG HARUS DIMILIKI SEORANG JURU BICARA PENGADILAN

 7 KEPRIBADIAN YANG HARUS DIMILIKI SEORANG JURU BICARA PENGADILAN

Oleh: D.Y. Witanto

(Hakim Yustisial pada Biro Hukum dan Humas MA)

1. JUJUR

Seorang juru bicara dituntut untuk selalu berkata jujur. Jujur bukan berarti semua harus dikatakan. Katakan apa yang seharusnya dikatakan dan tidak perlu mengatakan apa yang tidak perlu atau tidak boleh dikatakan, karena belum tentu tersedia waktu yang cukup untuk mengatakan semuanya. Dalam kondisi yang buruk sekalipun seorang juru bicara harus tetap berkata jujur. Sampaikan dengan baik agar publik bisa menerima apa adanya meskipun akan terasa pahit. Jujur dengan apa adanya jauh lebih baik daripada sibuk berkelit dengan pernyataan bohong. Publik pada umumnya akan lebih mudah menerima dan memaafkan ketika mau bersikap jujur, daripada berusaha menutupi yang sebenarnya. Jika publik telah merasa dibohongi, maka sangat sulit untuk mengobatinya. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa, kepercayaan dapat terbangun oleh adanya rasa simpatik dan kejujuran salah satu cara untuk meraih simpatik.

2. SANTUN

Berbicara dan bertutur kata yang baik merupakan modal utama dalam melakukan komunikasi. Sebuah pesan baru dianggap penting jika tersampaikan dengan baik. Cara penyampaian pesan yang arogan akan menumbuhkan resistensi bagi para komunikan, sehingga akan memicu perdebatan yang tidak substansial. Sikap santun harus ditunjukan oleh seorang juru bicara dalam proses komunikasi, baik verbal maupun non verbal. Penataan kalimat dalam sebuah ucapan dan tulisan akan membawa pengaruh besar pada perubahan sikap dan etika. Persepsi akan lebih cepat terbangun oleh bagaimana sebuah pesan itu disampaikan daripada isi pesan itu sendiri, karena publik akan lebih dulu tertarik oleh sikap dan etika yang ditunjukan oleh si pembicara sebelum tertarik untuk memahami isi pesan yang disampaikan.

3. BERINTEGRITAS

Integritas merupakan sikap pribadi yang teguh dalam memegang prinsip sebagai nilai-nilai moral dan keyakinan. Pertaruhan yang terbesar bagi seorang juru bicara adalah pertaruhan pada dirinya sendiri. Sehingga seorang juru bicara harus memiliki integritas dan riwayat yang tidak tercela. Karena jika tidak, maka apa yang diucapkan bisa menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan lembaga. Publik akan mengukur apa yang pernah dilakukan dengan apa yang saat ini diucapkan. Juru bicara adalah cermin dari sebuah lembaga. Publik akan membandingkan apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan, konsistensi adalah kunci utamanya. Dalam proses komunikasi publik, faktor pribadi seorang juru bicara sangat menentukan, karena pada umumnya publik lebih memperhitungkan siapa yang berbicara ketimbang apa yang dibicarakan, sehingga integritas menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang juru bicara.

4. OBJEKTIF

Objektif adalah sikap dan penilaian yang didasarkan pada data dan fakta, bukan berdasarkan penilaian pribadi dan asumsi. Seorang juru bicara tidak boleh terjebak pada posisi subjektif atas dirinya sendiri, karena akan menimbulkan informasi yang disampaikan menjadi bias. Seberapa banyak data yang dimilikinya, itulah yang menjadi dasar penyampaian informasi. Seorang juru bicara harus senantiasa sadar bahwa dia berbicara bukan atas nama pribadinya, namun atas nama lembaga yang menunjuknya, sehingga harus menghindari munculnya opini pribadi dalam menyampaikan pesan kepada publik. Seorang juru bicara pengadilan harus mampu membedakan antara kedudukannya sebagai seorang hakim dan sebagai juru bicara, meskipun selalu ada irisan etika yang tetap tidak boleh dilanggar dalam menjalankan fungsinya sebagai juru bicara.

5. LUGAS DAN TEGAS

Kita tidak bisa memaksa publik untuk berfikir tentang apa yang kita sampaikan. Pesan harus bisa difahami dan dimengerti maksudnya oleh publik seketika itu juga. Pesan penting tidak boleh terlewatkan hanya karena juru bicara terlalu bertele-tele. Penyampaian pesan ditujukan untuk beberapa tahapan maksud, pertama: pesan ditujukan untuk mendapatkan perhatian dari khalayak yang menjadi target komunikasi, kedua: pesan ditujukan untuk menarik minat khalayak kepada isi pesan, ketiga: pesan ditujukan untuk menggerakkan khalayak agar bertindak sesuai dengan isi pesan dan keempat: pesan ditujukan untuk mengarahkan sikap dan tindakan khalayak agar tetap sesuai dengan kehendak si pemberi pesan (komunikator).

6.TENANG

Pengendalian diri yang baik akan membuat seorang juru bicara mampu mengambil sikap yang tepat di segala situasi dan kondisi. Ketenangan adalah kunci dalam proses komunikasi di saat krisis. Ujian pertama bagi seorang juru bicara adalah bagaimana ia mampu menguasai dirinya sendiri, baru setelah itu ia harus mampu menguasai audiensnya. Sikap gugup akan menurunkan diksi dan artikulasi dalam berbicara. Penguasaan diri bisa dimulai dari saat mengambil nafas sebelum berbicara dan kemudian fokus pada apa yang akan disampaikan. Informasi harus disampaikan mulai dari yang terpenting agar pesan utama tidak terlewatkan atau tidak kehilangan momen untuk menyampaikannya. Situasi tidak selalu bisa diatur sesuai kehendak kita, namun situasi harus kita tundukan dengan ketenangan kita.

7. SABAR

Sifat sabar adalah kunci pengendalian diri pada setiap keadaan. Banyak hal yang pasti akan memicu timbulnya emosi ketika berhadapan dengan audiens yang berasal dari berbagai kalangan. Seorang juru bicara yang handal tidak boleh terpengaruh oleh situasi yang dihadapinya. Ia harus tetap sabar dan bersikap normal, jangan sekali-kali terpancing oleh prilaku audiens. Pusatkan pikiran pada apa yang harus disampaikan, meskipun banyak rintangan yang menghadang. Ditengah siatusi yang chaos, seorang juru bicara harus mampu menentukan saat yang tepat, kapan ia harus berbicara dan kapan harus menjadi pendengar. Saat menjadi pendengar tidak cukup sekedar menyediakan telinga, namun harus memberikan respons yang menyejukan agar emosi khalayak menjadi reda.


… Selamat menjadi juru bicara yang handal…